PENYU MASIH SINGGAH DI PANTAI AIR HITAM Oleh Helti Marini Sipayung
Kepala Seksi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Darwis Saragih mengatakan lebih dari 50 persen kawasan konservasi di Bengkulu mengalami kerusakan.
"Kerusakan kawasan lebih dari 50 persen, termasuk cagar alam (CA) Air Hitam, Kecamatan Sungai Rumbai Kabupaten Mukomuko yang merupakan habitat bertelur penyu," katanya.
Selain kawasan konservasi seluas 100 hektare (Ha) yang berada di pesisir pantai Barat Sumatra ini, CA Danau Tes 2.800 Ha, CA Danau Menghijau 1.500 Ha dan CA Mukomuko 600 Ha, serta kawasan konservasi di Pulau Enggano 8.000 Ha juga sudah mengalami kerusakan.
Selain kawasan konservasi di Pulau Enggano yang masih relatif baik karena masyarakatnya mengandalkan hasil laut dengan sistem tangkap tradisional, lebih dari 50 persen juga mengalami kerusakan.
Ia mengatakan, kerusakan kawasan ini karena aktivitas perambahan oleh masyarakat yang mengalihfungsikan kawasan menjadi pemukiman dan perkebunan.
Di wilayah Timur Bengkulu seperti Kabupaten Kepahiang, Lebong dan Rejang Lebong sebagian besar kawasan dirambah menjadi areal kebun kopi dan tanaman palawija.
Sedangkan di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Mukomuko, kawasan dirambah untuk ditanami tanaman perkebunan jenis sawit dan karet.
Hal serupa juga terjadi atas kawasan konservasi CA Air Hitam yang merupakan salah satu kawasan yang unik karena menjadi habitat bertelur satwa dilindungi, penyu.
"Hampir 50 persen kawasan CA Air Hitam di Desa Air Hitam dan Retak Ilir sudah dirambah oleh masyarakat dan diganti menjadi kebun sawit," katanya.
Kondisi ini jelas mengancam kelestarian enam dari tujuh jenis penyu yang terdapat di dunia yang menjadikan pantai tersebut sebagai tempat bertelur.
Enam jenis penyu yang masih singgah dan bertelur di Pantai Air Hitam adalah Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Tempayan (Caretta caretta), Penyu Pipih (Natator depressus), Penyu Lekang (Lepidochelys olivaceae) dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriaceae).
Keenam jenis penyu yang merupakan satwa dilindungi itu sering mengubur telurnya di Pantai Air Hitam khususnya pada awal tahun.
Seiring tingginya aktivitas terlarang masyarakat di pantai itu ancaman terhadap kelestarian penyu juga semakin tinggi.
"Perburuan sangat tinggi khususnya untuk mengambil telur penyu dan menangkap penyu yang singgah di darat," katanya menjelaskan.
Tingginya tingkat perburuan mengakibatkan keenam jenis penyu masuk dalam daftar satwa terancam punah.
Penangkaran
Berbagai upaya dilakukan untuk melindungi dan menjaga kelestarian satwa tersebut antara lain ditetapkan sebagai satwa dilindungi dalam Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Namun, kebijakan ini belum sepenuhnya mampu melindungi dan melestarikan penyu dari ancaman kepunahan.
Hal ini mendorong BKSDA Bengkulu bersama puluhan pemuda Desa Air Hitam yang tergabung dalam Kelompok Pemuda Pecinta dan Pelestari Lingkungan Hidup (KP3LH) melakukan penangkaran telur penyu.
Lokasi penangkaran tidak jauh dari pantai Air Hitam agar suhu pasir dan volumenya tidak berbeda jauh dengan habitat aslinya di pinggir pantai itu.
Staf Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Bengkulu, Ramon Dias mengatakan aktivitas penangkaran mulai dilakukan sejak awal tahun 2008 lalu.
Hingga saat ini ribuan telur berhasil ditangkar dan menetas menjadi anak penyu yang biasa disebut "tukik" kemudian dilepas ke laut.
"Kami ingin memasyarakatkan kegiatan ini dan beberapa kali mengundang pejabat daerah untuk melepas tukik bersama masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap masa depan penyu,"jelasnya.
Ramon mengatakan selama tahun 2009 kerjasama ini telah berhasil menangkar dan melepaskan lebih dari 1.000 ekor tukik ke laut lepas di Pantai Air Hitam dan dua kali menggelar acara pelepasan bersama Bupati Mukomuko dan sejumlah pejabat Pemprov Bengkulu.
Kegiatan penangkaran tidak membuat tingkat perburuan terhadap penyu dan telurnya berkurang karena kelompok KP3L sering menemukan lubang tempat penyu menyimpan telur dalam keadaan kosong.
Perilaku penyu yang menempatkan telur dalam satu lubang membuat pelestarian satwa terancam punah ini semakin sulit karena apabila pemburu menemukan lubangnya maka 100 lebih telur akan hilang semuanya.
"Satu ekor penyu biasanya memiliki lebih dari 100 butir telur dan ditempatkan di satu lubang, jadi kalau pencuri menemukan lubang telur maka semuanya akan hilang,"katanya.
Telur penyu yang dicuri warga bisa ditemui di sejumlah pasar tradisional di daerah itu dan dijual dalam keadaan masak Rp 2000 per butir.
Menurut Ramon, dari enam jenis penyu yang sering singgah dan bertelur di pantai Air Hitam penyu hijau merupakan jenis penyu yang paling langka dan istimewa karena dagingnya memiliki rasa yang lebih enak sehingga menjadi incaran pemburu.
Penangkaran penyu juga dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu dengan kelompok Penyu Lestari yang menjadi binaannya di Desa Retak Ilir yang berdampingan dengan Desa Air Hitam.
"Baru-baru ini ada 150 tukik yang terdiri dari campuran penyu sisik dan penyu hijau, yang sudah dilepas di Pantai Air Hitam,"kata Kabid Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) DKP Provinsi Bengkulu, Rinaldi.
Selain melepaskan 150 tukik, kelompok Penyu Lestari yang beranggotakan 21 orang nelayan dan petani setempat juga saat ini menangkar 500 ekor tukik berumur satu bulan dan delapan lubang telur yang belum menetas.
Telur-telur tersebut baru menetas menjadi tukik setelah 56 hari didalam lubang yang ditutupi pasir pantai.
Untuk mendukung program ini, Bupati Mukomuko mengeluarkan ketetapan berdasarkan SK no. 450 tahun 2008 tentang penetapan Desa Air Rami dan Desa Retak Ilir sebagai kawasan pelestarian penyu.
"Pantai Retak Ilir dan pantai Desa Air Hitam tersebut merupakan kawasan persinggahan penyu untuk bertelur dan sebagian kawasan merupakan daerah Cagar Alam dibawah pengelolaan BKSDA,"katanya.
Penangkaran yang dilakukan saat ini untuk melindungi telur-telur penyu dari aksi pencurian warga atau dimangsa predator alami seperti biawak dan babi hutan.
Penangkaran ini juga diharapkan bisa melindungi penyu yang sering diambil dagingnya, telur atau karapasnya untuk dijadikan sovenir dan sebagian besar oleh manusia.