SEJARAH GEMPA BENGKULU HARUS DIWASPADAI
Bengkulu, 24/11 (ANTARA) - Sejarah gempa yang pernah melanda Bengkulu harus diwaspadai dan dijadikan dasar untuk terus melakukan upaya pengurangan resiko bencana atau mitigasi, kata Dosen Fakultas Teknik Universitas Bengkulu, Nurul Iman, Selasa.
Gempa pertama kali yang tercatat melanda Bengkulu terjadi pada tahun 1756, menyebabkan rumah-rumah penduduk termasuk dinding-dinding bangunan zaman pemerintah kolonial Belanda rusak.
"Memang belum diketahui skalanya karena keterbatasan alat pada zaman itu, tapi getaran yang ditimbulkan membuat banyak rumah penduduk hancur," katanya.
Kemudian pada tahun 1770 tercatat kejadian gempa yang menyebabkan kerusakan pada daerah-daerah yang sama seperti kejadian pada tahun 1756.
Kejadian gempa besar tercatat lagi pada tanggal 18 maret 1818, dengan intensitas 9 Modifed Mercalli Intensity (MMI).
"Gempa bumi pada 24 november 1833 yang menimbulkan kerusakan maupun hancurnya bangunan-bangunan dan rumah-rumah penduduk dengan intensitas gempa diperkirakan 7-9 MMI dan merupakan gempa dengan magnetuda terbesar yang pernah terjadi di pulau Sumatra,"terangnya.
Gempa ini bahkan masuk dalam 10 gempa terbesar di dunia yang terjadi pada abad ke 19, yang pusatnya diperkirakan berada di antara Pulau Banyak dan Pulau Enggano.
Selanjutnya gempa besar juga terjadi pada 26 juni 1914 dengan intensitas gempa diperkirakan 9 MMI.
Kemudian yang bisa dideteksi kekuatannya terjadi pada 4 juni 2000 berkekuatan 7,9 pada skala richter dengan lokasi 110 km di tenggara Kota Bengkulu yang menewaskan 100 orang warga Bengkulu.
"Dan terakhir pada 12 September 2007 berkekuatan 7,3 pada skala richter dan mencapai 8,2 MMI dengan pusat pada kedalaman 34 km sekitar 130 km barat daya Bengkulu yang telah memporak-porandakan bangunan dan fasilitas publik di Bengkulu Utara, Muko-Muko dan Kota Bengkulu," katanya.
Potensi gempa di Bengkulu berasal dari sesar Mentawai yang terletak lebih kurang 100 - 200 km sebelah barat pantai Sumatra yang terbentuk karena adanya perbenturan lempeng Samudera Hindia-Australia dengan lempeng Eurasia dimana sesar Mentawai akan menghasilkan gempa dengan pusat-pusat gempa di laut.
Selain itu patahan Sumatra (Sumatran fault) yang membentang kurang lebih 1.600 km dari teluk Semangko di selatan Pulau Sumatra sampai Banda Aceh di utara Pulau Sumatra juga membuat intensitas potensi gempa Bengkulu semakin tinggi dimana patahan ini akan menghasilkan gempa dengan pusat-pusat gempa di darat.