19 Desember 2009

SEBAGIAN BESAR SALURAN IRIGASI DI BENGKULU RUSAK

Bengkulu, 6/12 (ANTARA) - Anggota Komisi II DPRD Provinsi Bengkulu Siswadi SP mengatakan sebagian besar saluran irigasi di daerah itu rusak sehingga target peningkatan produksi pangan lebih dari 500 ribu ton tahun ini terancam tidak terealisasi.

"Khususnya di Kabupaten Seluma, banyak saluran irigasi yang tidak berfungsi sehingga air tidak sampai ke areal persawahan petani dan mereka tidak bisa menggarap sawah," katanya di Bengkulu, Minggu.


Akibatnya, kata Politisi PKS ini, sebagian areal persawahan petani diganti dengan tanaman sawit.

Apabila hal ini terus berlanjut, produksi pangan daerah ini akan terus menurun bahkan perubahan fungsi lahan pangan akan terus terjadi.

"Petani menunggu perbaikan irigasi yang tidak juga terealisasi sehingga mereka menanam sawit yang tidak butuh banyak air," katanya.

Hasil laporan Pansus proyek tahun jamak atau multiyears DPRD periode sebelumnya (2004-2009) menyebutkan, sembilan proyek irigasi di sembilan kabupaten dianggap bermasalah.

"Hampir seluruh proyek irigasi senilai Rp60 miliar dari pantauan Pansus masih bermasalah atau sama sekali belum bisa dimanfaatkan petani," kata mantan Ketua Pansus multiyears Budi Darmawansyah yang terpilih kembali menjadi anggota DPRD provinsi periode 2009-2014.

Rehabilitasi irigasi Air Lais di Kecamatan Kuro Tidur Kabupaten Bengkulu Utara senilai Rp10 miliar yang dikerjakan PT Anisa Putri Radgil yang menurut laporan Dinas PU realisasi fisiknya sudah mencapai 85 persen dan realisasi anggaran 90 persen, menurut Pansus, kualitas pekerjaannya diragukan.

"Pansus menilai realisasi fisik dan anggaran tidak seimbang sehingga perlu dilakukan audit," kata Ketua Komisi III yang bermitra dengan Dinas Pekerjaan Umum ini.

Pekerjaan rehabilitasi irigasi Air Meles di Kabupaten Rejang Lebong dengan dana Rp3,5 miliar yang dikerjakan PT Kartika Jaya Citra juga diragukan kualitas pekerjaannya.

"Laporan Dinas PU menunjukkan realisasi fisik sudah mencapai 87 persen dan anggaran 70 persen," katanya.

Hal serupa juga ditemui pada proyek pemeliharaan irigasi Air Hitam Kanan yang menelan anggaran Rp10 miliar oleh PT Mitra Hutama yang menurut Dinas PU sudah terealisasi 60 persen dan anggaran 32 persen, namun kenyataannya pekerjaan belum selesai.

Rehabilitasi irigasi Air Permu dengan anggaran Rp2,5 miliar yang dikerjakan PT Sapta Karya Lestari dan dilaporkan Dinas PU sudah selesai 100 persen dan realisasi anggaran 100 persen, menurut Pansus, kualitasnya diragukan sehingga realisasi anggaran juga dipertanyakan.

"Begitu juga dengan pemeliharaan irigasi Air Seluma di Kabupaten Seluma dengan dana Rp9 miliar yang dikerjakan PT Purnama Asri pengerjaan fisiknya diragukan karena pelaksanaan pekerjaan tanpa melalui pengeringan," katanya.

Kualitas pengerjaan irigasi Air Seginim di Kabupaten Bengkulu Selatan dan irigasi Air Kule di Kabupaten Kaur masing-masing senilai Rp10 miliar oleh PT Suci Karya Badinusa juga dipertanyakan karena dari temuan Pansus bangunan tersebut belum bisa dimanfaatkan padahal dari laporan Dinas PU realisasi fisik sudah 70 persen dan realisasi anggaran 96 persen.

Pembangunan irigasi Air Ling di Kabupaten Bengkulu Selatan dengan dana Rp2 miliar yang dikerjakan PT Tirta Karya Sakti menurut laporan Dinas PU realisasi fisik dan anggaran sudah 100 persen namun temuan Pansus menunjukkan irigasi itu sudah rusak.

"Kami akan kembali melakukan tinjauan lapangan karena alokasi dana proyek multiyears akan selesai 2009," katanya.

© Copyright 2011 Perum LKBN Antara Biro Bengkulu . All rights reserved | Contact Us | About Us

Back to TOP