BALITBANG BENGKULU KAJI BANGUNAN TAHAN GEMPA
Bengkulu, 9/12 (ANTARA) - Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Bengkulu menganggarkan dana Rp300 juta untuk melakukan kajian tentang bangunan yang mampu mengurangi risiko gempa.
"Kegiatan ini akan dilakukan 2010, dan anggarannya sudah disetujui DPRD sebesar Rp300 juta," kata Kepala Balitbang Provinsi Bengkulu Sadikin, Rabu.
Kajian tersebut akan dilakukan untuk mendapatkan model bangunan baik hunian maupun perkantoran yang bisa mengurangi risiko gempa bumi.
Posisi Bengkulu yang berada di dua lempeng aktif yakni lempeng Eurasia dan Indoaustralia membuat daerah ini rawan gempa bumi.
"Ditambah lagi dengan patahan Sumtra yang menimbulkan gempa bumi di darat," tambahnya.
Selain kajian model bangunan yang bisa mengurangi resiko bencana, pada 2010 Balitbang juga akan melakukan kajian pengembangan budidaya kepiting bakau yang punya potensi tinggi di daerah itu.
"Daerah ini banyak hutan bakau jadi potensial untuk dikembangkan sehingga pada 2010 sudah tersedia dana Rp300 juta untuk pengembangannya," katanya..
Anggaran tersebut akan digunakan untuk melakukan kajian terhadap potensi pengembangan kepiting bakau khususnya yang terdapat di kawasan Pulau Baai, Kota Bengkulu.
Selama ini nelayan Kelurahan Kampung Melayu yang memiliki areal hutan bakau yang luas masih membudidayakan kepiting tersebut secara alami.
"Belum ada perlakuan khusus untuk membesarkan anak kepiting atau mempercepat perkembangbiakannya, dengan kajian ini informasi itu akan diketahui dan bisa diteruskan ke nelayan," katanya.
Sebagian besar kepiting bakau yang dijual nelayan di Pulau Baai juga hasil tangkapan dari hutan bakau di lokasi itu.
Harga kepiting bakau yang tergolong tinggi mencapai Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram membuat nelayan yang mengandalkan penangkapan kepiting sebagai mata pencaharian semakin banyak.
Selain kajian pengembangan budidaya kepiting bakau, Balitbang pada 2010 juga akan melakukan kajian terhadap industri hilir di Bengkulu.
Sektor yang diutamakan antara lain pertanian secara umum yakni perkebunan, perikanan, peternakan dan pangan.
"Sesuai dengan kebutuhan daerah saat ini kami juga akan melakukan kajian terhadap potensi industri hilir yang potensial," katanya.