PERUSAHAAN DIMINTA TIDAK BERATKAN TENAGA KERJA
Mukomuko, Bengkulu, 17/12 (ANTARA) - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, meminta perusahaan perkebunan kelapa sawit meninjau kembali target panen 100 tandan buah segar bagi setiap tenaga kerja.
"Kebijakan setiap tenaga kerja harus memanen sawit 100 tandan buah segar (TBS) perhari sangat memberatkan mereka, karena itu PT Alno Devisi I Air Ikan Estate yang memberlakukan harus meninjau kembali," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Mukomuko Hariyadi Nazar, Jumat.Ia mengatakan tenaga kerja yang banyak mengundurkan diri karena mereka tidak sanggup memenuhi permintaan perusahaan milik pemodal asing itu.
"Bila perusahaan tetap memaksakan kehendak maka banyak tenaga kerja yang tidak mampu mengejar target karena dengan kondisi tanaman sawit yang sudah tinggi itu sulit mereka bisa bekerja maksimal," ungkapnya.
Menurut dia, dinas mendengarkan langsung keluhan tenaga kerja, dan setelah disampaikan kepada pimpinan perusahaan kemungkinan mereka akan mengelar pertemuan dengan tenaga kerja terkait penurunan basis 100 TBS itu.
"Saat ini dinas menunggu hasil pembahasan dan kesepakatan antara pihak perusahaan dan tenaga kerja, sehingga dalam kesimpulan itu bisa dijadikan pedoman dinas untuk melakukan tindakan selanjutnya," ujarnya.
Ia berharap perusahaan menurunkan basis sebesar 100 TBS menjadi 90 TBS atau lebih rendah lagi, sehingga tidak begitu memberatkan tenaga kerja.
Jika dalam pertemuan itu perusahaan tetap tidak menurunkan basis 100 TBS, kemungkinan dinas akan melakukan tindakan hukum dengan membawa masalah ini ke Pengadilan Hubungan Industri.
"Kemungkinan upaya terakhir yang akan ditempuh dinas dengan membawa persoalan ini melalui jalur hukum agar perlindungan tenaga kerja di daerah ini bisa berjalan," urainya.
Sementara salah seorang tenaga kerja mengatakan tidak mampu mencapai target yang diminta oleh perusahaan apalagi gaji yang diterima tidak sebanding dengan pekerjaan.
"Dengan gaji yang dibayar perusahaan sebesar Rp800 ribu kami tidak mampu mencapai target 100 TBS setiap hari," katanya.