GUBERNUR BENGKULU BANTU MAHASISWA STAIN GANTI LOGO
Bengkulu, 14/1 (ANTARA) - Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin membantu mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri (STAIN) setempat, mengganti logo menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN).
"Logo STAIN yang ada di baju kalian silahkan diganti dengan logo baru IAIN. Biayanya akan saya bantu," kata Agusrin pada acara pembukaan selebung nama IAIN Bengkulu, Kamis.
Untuk mengganti logo setiap mahasiswa mendapat bantuan uang tunai Rp10.000.
Menurut gubernur, kendati secara resmi status STAIN menjadi IAIN belum turun dari Menteri Agama, namun ia sudah mendapat restu dari pusat untuk membuka dan mengganti logo STAIN tersebut.
Sebelum membuka selubung nama IAIN tersebut, ia membentuk tim percepatan perubahan status STAIN menjadi IAIN agar cepat keluar izin dari Menteri Agama.
Tim itu anggotanya adalah Pemprov Bengkulu, STAIN, dan Kanwil Depag yang bertugas menelurusi ijin apa saja yang diperlukan dalam alih status STAIN tersebut.
Dengan dibantuknya tim diharapkan sebelum pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-XXIII pada Juni 2010 perubahan status STAIN sudah terlealisasi.
"Bila perlu status STAIN menjadi IAIN bersamaan dengan pembukaan MTQ Nasional di Bengkulu itu," katanya.
Sebab segala persyaratan sudah siap termasuk memenuhi kekurangan gurur besar yang ada sekarang baru satu orang, karena minimal tiga orang. Namun kini sudah ada beberapa calon guru besar untuk melengkapi persyaratan tersebut.
Ia menambahkan, tugas tim ini tidak ada bedanya sewaktu Universitas Bengkulu (Unib) akan membuka program fakultas kedokteran.
Sementara itu, Pembantu Ketua STAIN Bengkulu Sirajudin mengatakan, dua orang guru besar yang sudah menyatakan kesediaannya adalah Prof Abdul Hamid asal Kabupaten Kepahiang yang saat ini mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Prof Damra Hain yang memberi mata kuliah hukum syariah di IAIN Lampung.
Perubahan status STAIN tersebut untuk memudahkan putra Bengkulu yang ingin kuliah di IAIN, sehingga tidak lagi jauh-juah ke Palembang atau Lampung.