BUPATI: PENGADAAN SAPI BANTUAN WARGA MUKOMUKO BERMASALAH
Bengkulu, 18/1 (ANTARA) - Bupati Mukomuko, Provinsi Bengkulu Ichwan Yunus mengatakan, bantuan pengadaan 142 ekor sapi untuk petani dari kantor Kementerian Daerah Tertinggal diduga bermasalah.
"Saya menduga ada indikasi penyelewengan dalam proyek pengadaan sapi bernilai Rp1,087 miliar dari pusat itu," kata Ichwan Yunus melalui Kabag Humas Pemkab Mukomuko Yanzuri Nawawi, Senin.
Timbulnya masalah dalam proyek pengadaan sapi tersebut, pelakunya akan diusut secara tuntas secara hukum oleh pihak berwenang (Kepolisian) setempat.
Sebab selain sudah merugikan negara, juga petani penerima sedianya mendapatkan sapi remaja untuk dikembangbiakan, ternyata diberikan sapi dewasa yang terjangkit penyakit.
Sampai sekarang sudah empat ekor mati, sedangkan sisanya masih sakit dan tak mau makan. Boleh saja sapi itu stres dalam perjalanan dari Lampung Ke Mukomuko, namun tidak semuanya sakit seperti sekarang, jelasnya.
Sapi yang diberikan ke kelompok tani di dua desa di Kecamatan XIV Koto setempat, sebagian besar sakit dan menderita penyakit kulit dan kemerah-merahan.
Berarti dalam pengadaan sapi tersebut tidak sesuai dengan klasifikasi dari Bappeda setempat atau pihak kontraktornya yang tidak berkoordinasi dengan pejabat setempat.
"Kami mengharapkan penegak hukum menuntaskan kasus itu, karena ada indikasi merugikan petani dan negara," ujarnya.
Sebelumnya para kepala desa penerima sapi batuan itu, mengancam akan melaporkan kontraktor pengadaan sapi (Ed) ke Kejaksaan Negeri setempat secara tertulis.
Bantuan sapi yang diterima warga di beberapa desa di wilayah itu sampai saat ini sudah banyak mati, sedangkan sisanya masih sakit dan tidak mau makan, kata Kades SP 7 Rawa Muliya Jumadi.
Sapi bantuan yang bermasalah tersebut diketahui hanya di dua desa yaitu SP7 dan Sp 8 Kecamatan XIV Koto dalam Kabupaten Mukomuko, semula akan dibagikan 110 ekor ternyata hanya 66 ekor dengan kondisi kurang sehat.
Sapi itu awalnya dijanjikan untuk ternak dengan usia remaja, namun kenyataan dibagikan sapi besar-besar yakni dari 30 ekor sapi betina hanya tiga ekor yang jantan.
Tidak hanya itu, katanya kondisi kesehatan sapi itupun memprihatinkan, tidak mau makan dan bahkan sudah ada beberapa yang mati, disamping kulit sapi itu diserang penyakit koreng dan kurap.
"Kami tidak yakin bantuan sapi dari pusat itu bisa berkembang sesuai harapan, karena usianya sudah dewasa dan penyakitan lagi, pokoknya kami minta diganti dengan sapi muda," katanya.
Ia menyatakan, kalau kondisi bantuan sapi seperti ini lebih baik warga dibantu bibit kambing atau itik saja, karena risikonya kecil bila dibandingkan dengan jenis sapi bali yang diberikan itu.