03 Desember 2009

WARGA MUKOMUKO KELUHKAN BANGUNAN IRIGASI MANJONTO KANAN

Bengkulu, 3/12 (ANTARA) - Warga Mukomuko, Bengkulu, mengeluhkan sisa galian pembangunan irigasi Manjunto Kanan yang tak selesai dikerjakan, karena bisa menimbulkan kecelakaan akibat dalamnya galian tersebut.

"Disamping itu lahan kelapa sawit yang dilalui saluran irigasi tersebut sudah terlanjur ditebang dan tidak bisa dipanen lagi," kata anggota LSM Gerakan Sadar Hukum Indonesia (Gerashi) Mukomuko Fery di Bengkulu, Kamis.


Walaupun kelapa sawit pada jalur pembangunan irigasi itu sebagian sudah digantirugi proyek, tapi tak seimbang dengan apa yang diharapkan warga yaitu masuknya air irigasi.

Sementara timbunan tanah bekas galian saluran induk jaringan irigasi Majunto Kanan tersebut, menutupi badan jalan masyarakat dan menjadi limbah saat musim penghujan.

Warga pada sarana irigasi itu sudah mulai menebangi tanaman kelapa sawitnya, dengan harapan lahan kebun kelapa sawit itu akan menjadi areal persawahan.

Namun harapan ribuan jiwa masyarakat, terutama eks transmigrasi asal Kedung Ombo, Jateng akan mendambakan irigasi teknis kandas setelah proyek nasional itu gagal diselesaikan.

Warga berharap pemerintah kabupaten kembali mengajukan penyelesaian proyek irigasi Manjunto Kanan tersebut, dalam rangka memenuhi kebutuhan air persawahan sekaligus mendukung Pemkab Mukomuko menjadi lumbung beras di Provinsi Bengkulu, jelas fery.

Sebelumnya, Sekab Mukomuko Ir Moch Satria Razalie didampingi Kabag Humas Yanzuri Nawawi mengatakan, pembangunan jaringan irigasi Manjonto Kanan di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, sudah terhenti beberapa tahun lalu.

Proyek itu menggunakan dana bantuan Jepang sebesar Rp120 miliar, sampai sekarang tak bermanfaat (mubazir) bagi ribuan petani sawah di wilayah itu.

Jaringan irigasi Manjonto Kanan sepanjang 86 km itu rencananya mengairi areal persawahan seluas 8.940 Ha meliputi wilayah Bengkulu 4.919 Ha dan wilayah Sumatra Barat (Sumbar) seluas 4.021 Ha.

Pembangunan jaringan irigasi Manjonto Kanan itu pernah dilakukan sekitar tahun 1997, namun tidak dilanjutkan akibat tak ada dana. Dalam pembanguan tahap kedua ini direncanakan dapat selesai seratus persen.

Namun belakangan proyek itu tidak selesai, akibat rendahnya mutu pekerjaan.
Terhentinya pengerjaan proyek raksasa itu, tidak hanya mengecewakan masyarakat petani setempat, tapi kerugian uang negara sudah cukup besar.

Kerugian bagi warga antara lain areal sawah tidak bisa diairi dan sekarang sudah ditanami kelapa sawit, juga lahan warga sudah dirusak untuk dijadikan saluran irigasi induk, tapi nyatanya sampai sekarang tidak dilalui air.

Penduduk sangat mendambakan jaringan irigasi itu, terutama warga eks korban pembuatan bendungan Kedung Ombo, Jateng, kehadiran mereka di Bengkulu sejaka 15 silam dijanjikan pemerintahan akan diberi sawah beririgasi, namun hingga kini belum terwujud.

Dengan kondisi lahan terlantar akibat tak bisa dibuat areal persawahan, warga setempat berinisiatif menanam kembali kelapa sawit di lahan tersebut.

Pengerjaan jaringan irigasi tersebut volumenya baru sekitar 50 persen kemudian tidak dilanjutkan lagi akibat terhentikan kucuran dana pijaman dari Jepang.

Rencananya air irigasi yang akan masuk ke wilayah itu volumenya cukup besar (54 M3/detik), dengan kapasitas sebesar itu diperkirakan mampu mengairi belasan ribu hektare lahan sawah, jelasnya.

Data yang dihimpun dari Subdin Pengairan Dinas PU Provinsi Bengkulu menyebutkan, irigasi Manjonto Kanan diprediksi mampu mengairi areal seluas 4.919 Ha, meliputi 13 desa dan unit pemukiman transmigrasi di wilayah Mukomuko dengan jumlah penduduknya sekitar 1.861 kepala keluarga (KK).

Sementara irigasi Manjonto (bagian) Kiri yang dibangun pada tahun 1983 dan diresmikan mantan Presiden Soeharto pada tahun 1989 mengairi areal sekitar 7.060 Ha, namun dari luas areal tersebut yang berfungsi sekitar 80 persen, sisanya ditanami kelapa sawit.

© Copyright 2011 Perum LKBN Antara Biro Bengkulu . All rights reserved | Contact Us | About Us

Back to TOP