PENGERUKAN PULAU BAAI BUTUH DANA RP250 MILIAR
Bengkulu, 10/11 (ANTARA) - Gubernur Bengkulu Agusrin Maryono Najamuddin mengatakan, pengerukan alur pulau Baai di provinsi Bengkulu membutuhkan dana Rp250 miliar agar tidak terjadi pendangkalan kembali.
"Kebutuhan dana cukup besar itu untuk melakukan pengerukan sebanyak 18 juta kubik pasir akibat terjadinya pendangkalan alur dipintu masuk sudah diambang batas," katanya di Bengkulu, selasa.
Pelabuhan laut pulau Baai, kata dia, sebagai tempat bongkar muat barang dan pengangkutan hasil tambang batu bara, dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Pendangkalan yang terjadi itu, sudah sangat memprihatinkan dan secepatnya harus segera diatasi dengan baik sekaligus memulihkan kembali kondisinya.
Kedalaman pada pintu masuk tersebut, sudah cukup dangkal dengan kedalaman yang dimiliki hanya mencapai 4-5 meter sehingga kapal pengangkut barang dan kebutuhan lainnya tidak dapat masuk ke pelabuhan.
Agusrin menambahkan, pendangkalan yang terjadi sudah diambang batas dan untuk melakukan pengerukan membutuhkan dana yang besar pula.
"Untuk mengembalikan kembali alur pulau Baai sempurna kembali maka pengerukan yang harus dicapai dengan kedalaman 15 meter lebih," ujarnya.
Pendangkalan alur, mengakibatkan pengangkutan CPO tidak dapat melewati laut melainkan diangkut melalui darat menuju pelabuhan laut Teluk Bayur, Provinsi Sumatra Barat.
Aktifitas pelabuhan paska pendangkalan, terutama bagi kapal-kapal berbadan lebar tidak dapat masuk sehingga pengangkut BBM, batu bara, dan semen tonasenya dikurangi.
Menurut dia, kondisi ini harus teratasi agar fungsi pelabuhan untuk pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terus meningkat.
Pelaksanaan pengerukan itu, akan dilakukan oleh kapal-kapal penyedot pasi berkapasitas besar sehingga pekerjaan tersebut dapat selesai secepatnya dan ssuai dengan speksifikasi kontrak.