BANGUNAN BERTINGKAT DISARANKAN PAKAI "BIDAY"
Bengkulu, 23/12 (ANTARA) - Bangunan bertingkat empat lantai disarankan menggunakan "biday" atau bahan bangunan terbuat dari bambu untuk mengurangi dampak risiko bencana gempa.
"Lantai tiga ke atas sebaiknya menggunakan 'biday', karena bahan bangunan dari bambu ini bahannya ringan. Jadi saat gempa terjadi bisa mengurangi risiko tertimpa bangunan," kata Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Provinsi Bengkulu Ali Berti, Rabu.
Sebab Bengkulu berada di pertemuan dua lempeng aktif yakni Indoasutralia dan Euroasia serta patahan Sumatra sehingga sangat rawan gempa bumi.
Jika mengacu bencana gempa Sumatra Barat yang menelan banyak korban jiwa, sebagian besar akibat tertimpa reruntuhan bangunan.
"Selama ini kita cenderung fokus bahaya tsunami setelah gempa, tetapi bencana Sumbar memberikan pelajaran baru dimana banyak korban akibat tertimpa reruntuhan bangunan," katanya.
Masyarakat Bengkulu banyak menggunakan desain rumah biday khususnya di Kecamatan Napal Putih Kabupaten Bengkulu Utara, menurut Ali harus dikembangkan sebagai upaya pengurangan risiko bencana.
Rumah-rumah warga yang menggunakan desain bangunan ini sudah terbukti mampu bertahan saat gempa melanda Bengkulu pada tahun 2000 berkekuatan 7,3 Skala Richter (SR) dan tahun 2007 berskala 7,9 SR.
"Bangunan yang menggunakan bahan biday tidak banyak yang mengalami kerusakan dan terbukti bisa bertahan dengan goncangan gempa dan sekarang sebagian masyarakat di sana sudah kembali ke biday," katanya.
Pengurangan risiko bencana melalui mitigasi bangunan rumah dan gedung perlu dibuat kebijakannya dalam bentuk peraturan daerah (Perda).
Selain itu pendirian bangunan berdasarkan rencana tata ruang wilayah juga harus diperhatikan mengingat sebagian besar korban gempa di Sumatra Barat juga akibat tertimbun longsor.