12 Maret 2010

KM USAHA MUDA TENGGELAM DALAM TIGA MENIT Oleh Rini Sipayung

Ganasnya ombak Samudera Hindia di pantai barat Sumatra kembali terbukti dengan tenggelamnya kapal motor (KM) Usaha Muda I yang berlayar dari Sunda Kelapa Jakarta menuju Teluk Dalam Nias, Sumatra Utara.

Kapal berbobot 186 gross ton (GT) itu tenggelam dalam tempo tiga menit di perairan Ipuh Kabupaten Muko Muko, Provinsi Bengkulu sekitar enam mil dari daratan pada Senin (8/3), pukul 19.15 WIB.


Dua orang anak buah kapal (ABK), Anton (24) dan Panji (27) yang selamat dari musibah itu menceritakan kronologis tenggelamnya kapal yang membawa 11 ABK dan satu nakhoda tersebut kepada ANTARA.

"Kami hanya punya waktu tiga menit untuk mengambil pelampung dan berusaha menyelamatkan diri sebelum kapal tenggelam," kata Panji mengawali kisah nahas yang membuat dia trauma itu.

Ia mengaku, susunan muatan kapal berupa semen dan keramik yang mencapai 520 ton yang tidak rapi menjadi salah satu penyebab cepatnya kapal oleng dan tenggelam.

Pada hari kelima pelayaran dari Sunda Kelapa, kapal yang dinakhodai Buya (65 tahun) tersebut mengalami gangguan mesin di perairan Bengkulu, tepatnya di Ipuh Kabupaten Muko Muko.

Pelayaran lima hari dari Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta, mesin sudah mengalami gangguan sebanyak tiga kali, bahkan sesaat sebelum kapal tenggelam terjadi kerusakan bagian kemudi kapal.

Padahal, satu bulan sebelumnya kapal tersebut sudah menjalani perawatan rutin atau "docking" di Semarang Jawa Tengah.

"Dalam kondisi mesin mati, hempasan ombak membuat kapal oleng dan tumpukan semen dan keramik yang tidak rata di dalam kapal jatuh ke sebelah kiri badan kapal dan tiba-tiba ombak setinggi empat meter juga datang dari arah kiri, sehingga membuat kapal tenggelam dalam tiga menit," kata pria lajang yang baru enam bulan bekerja di KM Usaha Muda I ini.

Menurut dia, semua ABK termasuk nakhoda sempat mengambil pelampung sebelum terjun ke laut lepas untuk menyelamatkan diri, sedangkan bangkai kapal tenggelam ke dasar laut yang diperkirakannya mencapai kedalaman 50 hingga 80 meter.

Panji dan Anton serta sembilan rekannya yang lain yaitu nakhoda kapal, Buya, Samir, Syukur, Ian, Ocha, Iskandar, Safrinul, Eko, Putra dan Mamat masih sempat berpegangan tangan selama dua malam sebelum memutuskan berenang mencari bantuan ke arah daratan.

"Beberapa jam di laut, kami masih menunggu kapal nelayan yang mungkin melintas dan bisa mencari bantuan, dan dari lokasi kapal tenggelam, kami masih bisa melihat cahaya lampu di daratan walaupun samar-samar, jadi kami memperkirakan kami masih dekat ke daratan," ujar pria yang beralamat di Jalan Belawan, Kota Padang, Sumbar, ini.

Setelah menunggu hingga dua malam ternyata tidak ada kapal nelayan yang melintas. Sang nakhoda kapal, Buya, memutuskan meninggalkan ABK lainnya untuk mencari pertolongan dengan cara berenang ke darat.

Namun, sejak kepergian sang kapten, mereka tidak pernah bertemu lagi. Pada Rabu (10/11) subuh, Panji dan Anton memutuskan untuk mencari bantuan dengan berenang ke daratan dan sempat melihat kapal nelayan mencari ikan.

"Saya sempat lambaikan tangan dan memanggil karena jaraknya sudah dekat, tapi perahu nelayan itu malah makin menjauh dan kami sudah mulai menyerah karena gelombang tinggi dan banyak air laut yang tertelan," ujarnya.

Semangat dan keyakinan untuk selamat membuat kedua pria yang tinggal bertetangga di Kota Padang ini terus berusaha berenang ke daratan, namun perputaran arus laut membuat mereka terseret ke arah selatan Bengkulu.

Keduanya akhirnya ditemukan Kapal Angkatan Laut (KAL) Enggano yang melakukan pencarian terhadap korban pada pukul 07.00 WIB pada jarak 40 km dari lokasi kapal tenggelam.

Panji berharap 10 rekannya masih selamat dan ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di daratan karena gaji yang diterima sebesar Rp600 ribu per bulan tidak sebanding dengan risiko yang dihadapi.


10 orang ABK hilang
Komandan Kapal AL Enggano, Lettu Laut (P) Nano Harsono mengatakan hingga saat ini 10 dari 12 ABK termasuk nakhoda masih hilang.

"Pencarian 10 ABK termasuk nakhoda belum bisa dilanjutkan karena kondisi dua korban selamat yang kami temukan sangat lemah jadi kami terpaksa kembali ke Bengkulu," katanya.

Pencarian korban akan kembali dilanjutkan setelah KAL Enggano menambah logistik dan BBM untuk tiga hari. Pencarian terhadap korban dibantu para nelayan setempat dan pos pengamatan AL yang terdapat di Putri Hijau, Teramang dan Ipuh.
Ia mengatakan, proses pencarian terhadap korban terkendala cuaca buruk seperti angin kencang dan gelombang tinggi.

Harsono mengatakan, sejak kapal tenggelam pada Senin (8/3) lalu memang cuaca sangat buruk, sehari penuh perairan Bengkulu diguyur hujan lebat dan angin kencang.

"Cuaca buruk mengakibatkan pelayaran dari Bengkulu ke Ipuh harus ditempuh selama enam jam, padahal kalau cuaca bagus bisa dicapai empat jam," katanya.

Selain terkendala cuaca, kondisi bangkai kapal yang tidak kelihatan di permukaan laut menambah kesulitan pencarian 10 ABK termasuk nakhoda yang hingga saat ini belum ditemukan.

Sementara Komandan Angkatan Laut (Danlanal) Bengkulu, Letkol Laut (P) Sukrisno, mengatakan KAL Enggano yang membawa personil sebanyak 13 orang akan melakukan pencarian selama tiga sampai empat hari sesuai dengan kemampuan logistik yang ada di kapal tersebut.

"Peraturan Basarnas memang pencarian selama satu minggu, tapi kita akan lihat kondisi di lapangan, apalagi kemampuan logistik KAL Enggano hanya empat sampai lima hari," katanya.

© Copyright 2011 Perum LKBN Antara Biro Bengkulu . All rights reserved | Contact Us | About Us

Back to TOP