RUMAH SAKIT KABUPATEN/KOTA PERLU DILENGKAPI VCT
Bengkulu, 10/11 (ANTARA) - Seluruh Rumah Sakit di Bengkulu perlu secara bertahap dilengkapi "Volunteer Conseling Test" (VCT) untuk mencegah penyebaran virus HIV/Aids yang tergolong tinggi di daerah itu.
"Kami berharap seluruh rumah sakit di kabupaten/kota dilengkapi VCT sehingga penanganan dan penanggulangan HIV/Aids bisa berjalan dengan baik, " kata Staf monitoring dan evaluasi Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Nasional, Irma Siahaan di Bengkulu, Selasa.
Ia mengatakan, penanggulangan HIV/Aids tidak mungkin berjalan optimal tanpa kelengkapan sarana prasarana khususnya VCT yang merupakan komponen utama memutuskan mata rantai penyakit mematikan itu.
Dari hasil monitoring dan evaluasi di Bengkulu keterbatasan tim VCT ini akan menjadi salah satu catatan pokok untuk ditindaklanjuti setelah memberikan laporan ke KPA Nasional di Jakarta.
Sementara itu tim VCT RSUD M Yunus saat ini rumah sakit itu hanya memiliki satu unit VCT.
"Memang saat ini tim VCT hanya ada di RSUD M Yunus sehingga penanggulangan dan pencegahan penyebaran virus ini berjalan lambat," katanya. Padahal penyebaran virus HIV sudah merata di 10 kabupaten/kota.
Yusdi mengatakan, pihaknya membutuhkan adanya penyuluhan atau pelatihan terhadap tim VCT di kabupaten/kota, karena penanganan penderita HIV/Aids dan pasien penyakit lainnya tidak bisa disamakan.
"Kami masih membutuhkan pelatih dan bimbingan terhadap tim VCT tentang bagaimana harus berinteraksi dan menangani para penderita ini," katanya.
Menurut dia, RSUD mendesak untuk membentuk VCT antara lain RSUD Kabupaten Bengkulu Selatan,RSUD Rejang Lebong, dan RSUD Kabupaten Bengkulu Utara karena penderita HIV sudah banyak di kabupaten itu.
Sementara itu, Sekretaris KPA Provinsi Bengkulu Arna Mareta mengatkan, peningkatan jumlah pengidap HIV/Aids di daerah ini lebih dari cukup untuk dijadikan dasar pembentukan tim VCT di setiap kabupaten.
Data KPA Provinsi Bengkulu menyebutkan selama Januari hingga Juni 2009 terdapat 325 kunjungan.
Pada 2003 ada empat orang, 2004 (dua orang), 2005 (sembilan orang), 2006 (sebanyak 28 orang), 2007 (ada 22 orang) dan 2008 meningkat menjadi 44 orang.
Peningkatan terus terjadi dan memasuki semester pertama 2009 sebanyak 50 orang terinfeksi HIV.