PEMKAB MUKOMUKO OPTIMALKAN KOMODITAS PENGHASIL ENERGI NABATI
Bengkulu, 21/11 (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mukomuko, Provinsi Bengkulu, akan terus mengoptimalkan komoditas tanaman jarak yang dapat menghasilkan energi nabati di daerah itu pada 2010.
"Kami telah mengembangkan komoditas buah jarak yang dapat menghasilkan energi dan bahan bakar nabati (BBN) di daerah itu," kata Bupati Mukomuko, Ichwan Yunus, di Bengkulu, Sabtu.
Pengembangan energi nabati, kata dia, dari tanaman Jarak pagar yang telah ditanam oleh masyarakat di 15 kecamatan dan 151 desa/ kelurahan setempat akan dioptimalkan.
Buah jarak pagar yang telah ditanam di pekarangan masyarakat, dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi BBN karena cukup efektif sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM) ke-depan.
Untuk mengembangkan hal itu, Pemkab menyediakan lahan untuk menanam dan memberikan bibit tanaman jarak yang berkualitas dengan harapan menghasilkan energi nabati sehingga kebutuhan BBN dapat terpenuhi pada tahun mendatang.
Pengembangannya tersebut, telah menyiapkan lahan seluas sepuluh haktare (Ha) di desa Padang Penaek, Kecamatan Mukomuko, dengan harapan tanaman tersebut terus berkembang.
Kabupaten yang berjarak kurang lebih 270 dari arah utara Kota Bengkulu merupakan wilayah pertanian dan perkebunan yang cukup berpotensi untuk dikembangkan.
"Pemkab telah mendirikan pabrik minyak jarak untuk mengoptimalkan kebutuhan BBN sehingga ke-depan diharapkan menjadi kabupaten penghasil energi nabati," ujarnya.
Luas kabupaten itu, mencapai empat kilometer persegi dengan jumlah penduduk yang tersebar di 15 kecamatan dan 151 desa/kelurahan 148.000 jiwa atau 33.218 kepala keluarga (KK)dengan mata pencarian sebagai petani 76 persen.
Untuk menunjang pengembangan tersebut, menurut dia, Pemkab telah menyediakan lahan dan bibit bagi masyarakat yang akan menanam tanaman penghasil energi nabati itu.
Hasil produksi dari tanaman masyarakat, Pemkab telah membangun pabrik Komoditas Jarak pagar agar buah yang dipanen dapat dijual.
BBN mentah yang dihasilkan dari mesin penggiling mencapai 300 liter per hari dan akan ditingkatkan pada tahun berikutnya.
"Buah Jarak akan dibeli dengan harga Rp3.000 per kilogram supaya tanaman masyarakat tersebut ada nilainya," ujarnya.