HUTAN PANTAI KURANGI RESIKO BENCANA TSUNAMI
Bengkulu, 12/11 (ANTARA) - Pemeliharaan hutan di garis pantai sepanjang 500 km di Provinsi Bengkulu, mutlak dilakukan karena mampu mengurangi resiko bencana tsunami.
Kepala Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Air Ketahun, Dodi Susanto, di Bengkulu, Kamis mengatakan, hasil penelitian dari tsunami Aceh, terbukti bahwa pada daerah yang hutan pantainya masih bagus, tidak begitu parah dilanda tsunami.
"Resiko kerusakan bisa dikurangi pada kawasan yang 'dipagari' hutan pantai," katanya, menjelaskan.
Sementara berdasarkan penelitian para ahli di Jepang, diketahui bahwa ketebalan hutan pantai 50 meter ke daratan bisa mengurangi dampak tsunami dengan ketinggian gelombang 30 meter.
Untuk itu, kata dia, penghijauan kawasan pantai juga harus menjadi prioritas, apalagi wilayah Bengkulu berada di sepanjang pantai barat Sumatra yang rawan gempa dan tsunami.
"Hutan pantai Bengkulu perlu ditambah kerapatannya, meskipun sebagian masih bagus. Begitu juga daerah mangrove, akan terus dipelihara dan direhabilitasi," katanya.
Dodi mengatakan, sebagian garis pantai di Bengkulu merupakan kawasan konservasi dan cagar alam, namun perambahan hutan dan penebangan liar masih menjadi ancaman bagi kawasan tersebut.
Selain itu abrasi pantai juga mengakibatkan longsor dan penyempitan daratan, khususnya di kawasan pantai Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko.
Sementara itu Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu, Yohanes Noor mengatakan pihaknya akan membentuk satuan petugas (Satgas) bencana di pesisir untuk mengurangsi resiko bencana.
"Memang keberadaan hutan pantai harus dilindungi dan dilestarikan, tapi masyarakat juga harus tetap siaga. Kami sudah membentuk Satgas di tiap daerah pesisir," katanya.
Yohanes mengatakan tujuh dari 10 kabupaten/kota di Bengkulu berada di wilayah pesisir, yakni Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur.