15 Mei 2010

BENGKULU TAWARKAN PROJEK KEANEKARAGAMAN HAYATI

Bengkulu, 13/5 (ANTARA) - Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu Khairil Burhan mengatakan, pihaknya sudah menawarkan dilakukannya projek keanekaragaman hayati (PKH) kepada dunia internasional.

"Penawaran PKH itu sudah kami lakukan dua tahun lalu, dengan tujuan bisa mendapatkan dana kompensasi, karena program ini satu dari sedikit kegiatan yang ada di dunia," kata Khairil di Bengkulu, Kamis.Kalangan internasional, kata dia, saat ini memberikan perhatian penuh pada kelestarian lingkungan untuk mencegah terjadinya pemanasan global, dan PKH merupakan salah satu bagian dari itu.

Selama ini banyak pihak menuntut konversi hutan, atau paling tidak "penurunan status" dari hutan lindung atau konservasi menjadi hutan produksi terbatas (HPT).

Namun dalam PKH justru sebaliknya, yakni meminta perubahan status dari HPT sebagai lokasi kegiatan menjadi kawasan konservasi. Ini berarti ada upaya penyelematan kawasan hutan, ucapnya.

Kegiatan PKH yang dilaksanakan Yayasan Sipef Indonesia itu kini dalam proses pengajuan izin ke Kementerian Kehutanan, dengan luas HPT 15 ribu hektare berlokasi di Kabupaten Mukomuko.

Yayasan Sipef didirikan oleh pengusaha perkebunan Belgia yang juga pemilik saham mayoritas pada PT Agro Muko, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pengolahan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil-CPO) di Kabupaten Mukomuko.

Untuk kegiatan pembangunan pengawetan keanekaragaman hayati di Mukomuko, Yayasan Sipef siap membiayai hingga jangka waktu 10 tahun, dengan menyediakan dana cukup besar.

"Anggaranya sudah ada, dan siap dikucurkan untuk pembangunan lokasi pengawetan keanekaragaman hayati itu, setelah semua persyaratannya rampung," katanya.

Kegiatan lain yang telah dilakukan, yakni penyusunan "master plan" dengan bantuan David Gaveau, seorang ahli konservasi dari Prancis yang telah puluhan tahun mengabdikan diri untuk melakukan penelitian terhadap hutan di Sumatra, khususnya Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Selain itu, katanya, juga dilakukan inventarisasi keanekaragaman hayati yang ada di calon lokasi pembangunan. Hal itu perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak kenekaragaman hayati yang masih ada.

Berdasarkan laporan dari Yayasan Sipef, rencana kegiatan akan berlangsung selama empat tahun, yaitu sejak 2010 hingga 2014, katanya.

© Copyright 2011 Perum LKBN Antara Biro Bengkulu . All rights reserved | Contact Us | About Us

Back to TOP